Sabtu, 12 Oktober 2019

Jurnal Praktikum Kimia Organik II “Perc. 6 Skrinning Fitokimia Senyawa Bahan Alam”


JURNAL PRAKTIKUM
KIMIA ORGANIK II


                                                                                        
DISUSUN OLEH:
MURNI MARIA SIMANJUNTAK (RSA1C117009)


DOSEN PENGAMPU:
Dr. Drs. SYAMSURIZAL, M.Si



PROGRAM STUDI PENDIDIKAN KIMIA
JURUSAN PENDIDIKAN DAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNUVERSITAS JAMBI
2019


PERCOBAAN 6
I.                   Judul                          : SKRINNING FITOKIMIA SENYAWA BAHAN ALAM
II.                Hari/Tanggal             : Rabu, 17 Oktober 2019
III.             Tujuan                       : Adapun tujuan praktikum sebagai berikut
1.         Dapat mengenal dan memahami teknik – teknik skrinning fitokimia bahan alam
2.         Dapat mengetahui jenis – jenis pereaksi yang digunakan dalam skrinning fitokimia bahan alam
3.         Dapat melakukan srinning fitokimia bahan alam dari suatu simplisia tumbuhan.

IV.                Landasan Teori
Menurut (Tim Penuntun Kimia Organik 2, 2015) Kandungan kimia yang ada pada makhluk hidup berdasarkan cara terbentuk dan manfaatnya dapat dikelompokkan atas dua kelompok besar yaitu :
1).   Metabolit Primer, merupakan senyawa organic yang terlibat dalam proses metabolisme dalam makhluk hidup seperti, karbohidrat, lipid, protein, dan asam-asam amino.
2).   Metabolisme Sekunder, merupakan hasil samping proses metabolisme seperti, alkaloida,steroida, flavonoida, fenolik, kumarin, saponin, kuinon, tannin, lignin, dan glikosida dll. yang dikenal sebagai kimia bahan alam
Simplisia adalah bahan alamiah yang dipergunakan sebagai obat tradisional yang belum mengalami pengolaan apapun juga dan kecuali dinyatakan lain merupakan bahan yang dikeringkan,
Terdapat 3 jenis simplisia yaitu :
a.     Simplisia nabati
b.     Simplisia hewani
c.     Simplisia pelikan
Proses pembuatan simplisia :
1.      Pengumpulan bahan baku
2.      Sortasi basah
3.      Pencucian
4.      Pengubahan bentuk
5.      Pengeringan
6.      Sortasi kering
7.      Pengepakan dan penyimpanan
Skrining fitokimia merupakan cara untuk mengidentifikasi bioaktif yang belum tampak melalui suatu tes atau pemeriksaan yang dapat denan cepat memisahkan antara bahan alam yang memiliki kandungan fitokimia tertentu dengan bahan alam yang tidak memiliki kandungan fitokimia tertentu. Skrining fitokimia merupakan tahap pendahuluan dalam suatu penelitian fitokimia yang bertujuan untuk memberikan gambaran tentang golongan senyawa yang terkandung dalam tanaman yang sedang diteliti. Metode skrining fitokimia dilakukan dengan melihat reaksi pengujian warna dengan menggunakan suatu pereaksi warna. Hal penting yang berperan dalam skrining fitokimia adalah pemilihan pelarut dan metoe ekstraksi (Kristianti dkk., 2008).
Skrining fitokimia serbuk simplisia dan sampel dalam bentuk basah meliputi pemeriksaan kandungan senyawa alkaloida, flavonoida, terpenoida/steroid , tanin dan saponin menurut prosedur yang telah dilakukan oleh Harbone (Harbone, 1987) dan (Depkes, 1995).
1.    Flavonoid
Flavonoid merupakan golongan fenol terbesar yang senyawa yang terdiri dari C6-C3-C6 dan sering ditemukan diberbagai macam tumbuhan dalam bentuk glikosida atau gugusan gula bersenyawa pada satu atau lebih grup hidroksil fenolik (Sirait, 2007; Bhat et al., 2009). Flavonoid merupakan golongan metabolit sekunder y ang disintesis dari asam piruvat melalui  metabolisme asam amino (Bhat et al., 2009). Flavonoid adalah seny awa fenol, sehingga warnanya berubah bila ditambah basa atau amoniak. Terdapat sekitar 10 jenis flavonoid yaitu antosianin, proantosianidin, flavonol, flavon, glikoflavon, biflavonil, khalkon, auron, flavanon, dan isoflavon (Harborne, 1987).
2.    Alkaloida
Merupakan golongan zat tambahan sekunder yang terbesar. Pada umumnya alkaloid mencakup senyawa bersifat basa yang mengandung satu atau lebih atom nitrogen, biasanya dalam gabungan sebagai bagian dari sistem siklik. Alkaloid biasanya tanpa warna, sering kali bersifat optis aktif, kebanyakan berbentuk kristal, tetapi hanya sedikit yang berupa cairan (Teyler. V. E, 1988). Alkaloid dapat dideteksi dengan beberapa pereaksi pengendap . pereaksi mayer memberikan endapan warna putih. Pereaksi dragendorff mengandung bismuth nitrat dan merkuri klorida dalam asam nitrat berair. Senyawa positif mengandung alkaloid jika setelah penyemprotan dengan pereaksi dragendorff membentuk warna jingga (Sastrohamidjojo, 1996).
3.    Kuinon
Adalah senyawa berwarna dan mempunyai kromofor dasar seperti kromor pada benzokuinon, yang terdiri atas 2 gugus karbonil yang berkonjugasi dengan 2 ikatan rangkap karbon-karbon. Untuk tujuan identifikasi, kuinon dapat dipilah menjadi 4 kelompok yaitu benzokuinon, naftokuinon, antrakuinon dan kuinon isoprenoid. Untk memastikan adanya suatu pigmen termasuk kuinonatau bukan, reaksi warna sederhana masih tetap berguna. Reaksi yang khas ialah reduksi bolak balik yang mengubah kuinon menjadi senyawa tanpa warna, kemudian warna kembali lagi bila terjadi oksidasi oleh udara (Harborne. J. B, 1987).
4.    Tanin
Merupakan senyawa yang memiliki sejumlah gugus hidroksi fenolik yang banyak terdapat pada tumbuh-tumbuhan. Terdapat pada daun, buah dan batang. Tanin merupakan senyawa yang tidak dapat dikristalkan dan membentuk senyawa tidak larut yang berwarna biru gelap atau hitam kehijauan dengan logam besi tanin terdapat luas dalam tumbuhan berpembuluh dalam angiospermae terdapat khusus pada jaringan kayu. Menurut batasannya tanin dapat bereaksi dengan protein membentuk kopolimer mantap yang tidak larut dalam air. Didalam tumbuhan, letak tanin terpisah dari protein dan enzin sitoplasma, tetapi bila jaringan rusak misalnya bila hewan memakannya maka reaksi penyamakan dapat terjadi. Reaksi ini menyebabkan protein lebih sukar dicapai oleh cairan pencerna hewan pemakan tumbuhan (Gunawan, 2004).
5.    Saponin
Merupakan senyawa dalam bentuk glikosida yang terbesar luas pada tumbuhan tingkat tinggi. Saponin membentuk larutan koloidal dalam air dan membentuk busa yang mantap jika dikocok dan tidak hilang dengan penambahan asam (Leswara, 2005).

V.                Alat dan Bahan
5.1              Alat
1.      Tabung reaksi 20 buah
2.      Erlenmeyer 250ml
3.      Plat tetes
4.      Gelas kimia 200ml
5.      Corong gelas
6.      Lumping
7.      Gelas ukur

5.2              Bahan
1.      Pereaksi Gragendroff
2.      Kloroform
3.      NaOH padat
4.      Pereaksi Meyer
5.      Etanol
6.      Brusin
7.      Pereaksi Wagner
8.      Methanol
9.      Iodine
10.  Shinoda
11.  Heksan
12.  KI
13.  Pandan
14.  Kayu manis
15.  Belimbing wuluh
16.  Sereh
17.  Jeruk purut

VI.             Prosedur Kerja
Adapun prosedur kerja dari praktikum ini ialah sebagai berikut:
1.                   Pemeriksaan Alkanoid
Kerja pemeriksaan alkaloida sebanyak 2 sampai 4 gram simplisia tumbuhan dihaluskan pada lumpang dengan menambahkan sedikit kloroform dan pasir bersih atau silika setelah bahan tumbuhan tersebut halus basahi dengan 10 mili kloroform Terus lagi Kemudian ditambahkan 10 ml amonia 1 per 20 N dan garis lagi sering ke dalam tabung reaksi a + 10 tetes larutan asam sulfat 2 n jika lapisan asam di dekantasi dan dipindahkan ke dalam 3 tabung reaksi kecil dan masing-masing tabung ditambahkan 1 tetes pereaksi Mayer Wagner bila mengandung ada koloid akan terbentuk endapan tipe endapan yang akan terbentuk sangat tergantung pada jumlah alkaloid yang ada dalam simplisia contoh sebagai perbandingan Hasil pengujian maka digunakan larutan alkaloid atau brusin dalam HCL 2N 0,0 10% alkaloid + 0,025% alkaloid + + 0,050 persen alkaloid + + + 0,1% alkaloid plus plus plus plus
2.                   Pemeriksaan steroid dan terpenoid
Pemeriksaan steroid dan terpenoid simplisia dalam tumbuhan 5 gram kering yang telah dirajang halus dimasukkan ke dalam Erlenmeyer 250 ml ditambahkan 25 ML etanol diaduk-aduk kemudian Panaskan di atas penangas air atau jangan menggunakan api langsung akan terbakar setelah dipanaskan lebih kurang 10 menit disaring dalam keadaan panas Filtrat yang diuapkan pelarutnya dengan rotary evaporator atau dengan menggunakan penangas air sehingga diperoleh ekstrak etanol ekstrak etanol tersebut selanjutnya dititrasi dengan sedikit air tawar dan beberapa tetes larutan eter ini ditempatkan dalam 2 lubang plat tetes dan dibiarkan kering selanjutnya ditambahkan 2-3 tetes asam asetat diaduk dengan hati-hati ditambahkan 1 tetes asam asetat asam sulfat pekat dan amati perubahan warna yang terbentuk timbul warna merah atau merah Ungu yang tidak stabil kemungkinan dikarenakan adanya triterpenoid sedangkan warna hijau karena ada steroid reaksi harus dicek dan dengan menambahkan hanya asam sulfat pekat pada lubang plat tetes yang satu lagi amati warna yang terjadi kalau terbentuk warna yang sama sangat boleh jadi contoh tumbuhan yang diperiksa tidak mengandung terpenoid tapi senyawa lain yang bereaksi dengan asam sulfat pekat
3.                   Pemeriksaan Flavonoid
Pemeriksaan flavonoid sebanyak 0,5 gram simplisia tumbuhan yang telah dihaluskan diekstraksi kan dengan 10 ml etanol Panaskan selama 5 menit dalam tabung reaksi selanjutnya hasil ekstraksi disaring dan setelahnya ditambahkan beberapa tetes HCl pekat lalu ditambahkan 10 lebih kurang 0,2 gram bubuk magnesium bila timbul warna merah tua menandakan contoh mengandung flavonoid dengan cara uji teknisi noda atau MG + HCL dengan cara lain pengujian flavonoid dengan menambahkan ekstrak etanol di atas dengan 2 tetes NaOH 10% adanya flavonoid ditandai dengan perubahan warna kuning oranye merah sebagai perbandingan untuk uprak pornoid dan dalam satu contoh tumbuhan digunakan sebutir kecil Alfa yang dianggap + + atau + + + untuk jumlah kandungan flavonoid dalam simplisia
4.                   Pemeriksaan Saponin
Pemeriksaan saponin ke dalam sebuah tabung reaksi dimasukkan lebih kurang 0,5 gram bahan tumbuhan yang diperiksa tambahkan 10 mili air panas dan dibiarkan menjadi dingin kemudian dikocok selama 10 detik apabila pada perlakuan ini terbentuk busa yang stabil setinggi 1 sampai 10 cm selama 10 menit dan tidak hilang ada penambahan 1 tetes asam klorida 2 n berarti tetesan saponin adalah positif sebagai perbandingan kadar saponin dalam contoh yang digunakan tumbuhan lidah buaya dengan korelasi Ukuran tinggi besar relatif terhadap kadar saponin sebagai berikut lebih tinggi 4 cm + + + + 3 sampai 4 cm + + + 2 sampai 3 cm + + dan di bawahnya 1 cm.
5.                   Pemeriksaan Kuinon
Pemeriksaan kuinon simplisia tumbuhan dipotong-potong halus kemudian direaksikan dengan eter kalau warna contoh yang diuji masuk ke dalam pelarut eter boleh jadi warna zat warna yang ada adalah  kuinon
6.                   Pemeriksaan Kumarin
Pemeriksaan kumarin ekstrak metanol atau etanol dari simplisia tumbuhan dapat dideteksi kebenaran kemarinnya dengan cara ekstrak etanol dan atau metanol dari contoh kromatografi lapis tipis dengan menggunakan etil asetat atau etil asetat metanol 9 / 1 atau 8 banding 2 di bawah sinar ultraviolet gelombang panjang 360 nanometer kemarin biasanya akan berfluoresensi biru dan kalor uap amonium akan terlihat noda yang berwarna kuning

LINK VIDIO
Adapun video yang berkaitan dengan praktikum kali ini ialah:
Permasalahan:
1.      Kenapa pada percobaan skrinning fitokimia dilakukan uji coba pada senyawa oraganik seperti Alkaloid, Steroid, Terpenoid, Kumarin, Kuinon  Saponin, Tannin, dll?
2.      Bagaimana pereaksi yang  digunakan dalam uji coba percobaan Skrinning Fitokimia ini?
3.      Kenapa perlu penambahan asam sulfat dalam percobaan skrinning fitokimia untuk uji senyawa organic steroid/terpenoid?

3 komentar:

  1. 3. penambahan asam sulfat pekat yaitu untuk mengidentifikasi apakah senyawa tersebut mengandung steroid atau terpenoid, dengan ditandai perubahan warna yang dihasilkan

    BalasHapus
  2. 1. karena skrinning fitokimia merupakan pemeriksaan kimia kualitatif terhadap senyawa-senyawa biologis yang berada pada simplisia tumbuhan atau makhluk hidup lain,maka dari itu yang termasuk senyawa aktif adalah senyawa-senyawa organik tersebut

    BalasHapus
  3. 2, pereaksinya nya mengunakan krining fitokimia serbuk simplisia dan sampel dalam bentuk basah meliputi pemeriksaan kandungan senyawa alkaloida, flavonoida, terpenoida/steroid , tanin dan saponin menurut prosedur

    BalasHapus

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

Sumber : http://3.bp.blogspot.com Latar Belakang Permasalahan Mata pelajaran kimia adalah salah satu mata pelajaran yang akan diajarkan di...