Reaksi Substitusi
Nukleofilik
Substitusi nukleofilik
adalah suatu kelompok dasar reaksi substitusi, di mana sebuah nukleofil yang
"kaya" elektron, secara selektif berikatan dengan atau menyerang
muatan positif dari sebuah gugus kimia atau atom yang disebut gugus lepas
(leaving group).
Bentuk umum reaksi ini
adalah :
Nu: + R-X → R-Nu + X:
Dengan Nu menandakan
nukleofil, : menandakan pasangan elektron, serta R-X menandakan substrat dengan
gugus pergi X. Pada reaksi tersebut, pasangan elektron dari nukleofil menyerang
substrat membentuk ikatan baru, sementara gugus pergi melepaskan diri bersama
dengan sepasang elektron. Produk utamanya adalah R-Nu. Nukleofil dapat memiliki
muatan listrik negatif ataupun netral, sedangkan substrat biasanya netral atau
bermuatan positif.
Contoh substitusi
nukleofilik adalah hidrolisis alkil bromida, R-Br, pada kondisi basa, di mana
nukleofilnya adalah OH− dan gugus perginya adalah Br-.
R-Br + OH− → R-OH + Br−
Reaksi substitusi
nukleofilik sangat umum dijumpai pada kimia organik, dan reaksi-reaksi ini
dapat dikelompokkan sebagai reaksi yang terjadi pada karbon alifatik, atau pada
karbon aromatik atau karbon tak jenuh lainnya (lebih jarang).
Menurut kinetikanya,
reaksi substitusi nukleofilik dapat dikelompokkan menjadi reaksi SN1 dan SN2.
Reaksi Substitusi
Nukleofilik Pada Alkil Halida
Menurut Fessenden
dalam buku Dasar-Dasar Kimia Organik menyatakan “Alkana yang tersubstitusi
dengan halogen (RX) disebut haloalkana atau alkil halida”. Di mana yang
digantikan oleh halogen itu adalah atom hidrogen dari alkana
tersebut. Alkil halida dapat beraksi dengan suatu nukleofil. Suatu
nukleofil (Nu:) merupakan ion atau molekul yang kaya dengan elektron yang
bereaksi di daerah yang bermuatan positif. Sehingga suatu nukleofil ini
akan bereaksi (menyerang) alkil halida pada atom karbon (C) yang mengikat
halida (X), akan menggantikan halida (X) dan menyebabkan perginya halida oleh
nukleofil. Halida yang digantikan ini disebut gugus pergi (Fessenden,2010:287-298).
Terdapat dua reaksi substitusi
nukleofilik yang dapat diterima,yaitu SN1 dan SN2.
Simbol SN menunjukkan reaksi substitusi nukleofilik,
sedangkan arti 1 dan 2 adalah unimolekuler dan
bimolekuler. Mekanisme reaksi SN1 berlangsung dua tahap
(Firdaus:5-7).
Contoh : t-butil bromida dengan nukleofil H2O
(Fessenden,1986:182).
Mekanisme Reaksi
Pada tahap pertama (ionisasi),ikatan antara atom C dengan
gugus pergi putus. Gugus pergi yang terlepas dengan membawa pasangan
elektron akan membentuk karbokation.
Pada tahap kedua (kombinasi), karbokation bergabung dengan
nukleofil membentuk produk.
Pada tahap ketiga ( pelepasan H+ ) pada pelarut merupakan
reaksi asam-basa dan bukan merupakan tahap dari reaksi SN1.
Menurut Stanley H. Pine, dkk dalam buku Kimia Organik1
menyatakan “Kecepatan reaksi hanya bergantung pada kosentrasi t-butil
bromida. Substrat (t-butil bromida), dan bukan nukleofilnya (air) yang
terlibat dalam pengendalian laju dan reaksinya bertingkat satu”(Pine,1988:414).
Jadi yang terlibat hanya satu pereaksi dalam reaksi, yaitu alkil halida
sedangkan nukleofil tidak terlibat dalam pembentukan karbokation (
penentuan laju reaksi). Pembentukan karbokation akan menentukan mekanisme
reaksi SN1akan berlangsung cepat, jika karbokation yang terbentuk
adalah struktur tersier dan akan berlangsung lambat jika strukturnya primer.
Karena dilihat dari urutan kestabilan karbokation itu dari 3º> 2º>> 1º
berbeda dengan reaksi SN2 (Firdaus:8). Kecepatan reaksi SN1ditentukan
dengan persamaan berikut ini : Kecepatan reaksi S1 = k [RX]
PERMASALAHAN :
1. Mengapa pada reaki Mekanime SN1
nukleofil tidak terlibat dalam pembentukan karbokation?
2. Bisa anda jelakan kenapa kecepatan reaksi Sn1=k[RX] ?
Referensi :
Fessenden, R.J, J.S. Fessenden. 1986. Kimia Organik Edisi 3.
Jakarta: Erlangga.
Fessenden, R.J, J.S. Fessenden. 2010. Dasar-dasar Kimia Organik.
Tanggerang:
Binarupa Aksara.
Firdaus, M.S. Alkil Halida. Diakses pada tanggal 24 September
2014 pada http://repository.unhas.ac.id/bitstream/handle/123456789/1711/Alkil_halida.pdf?sequence=1.
Pine, Stanley H.,dkk. 1988. Kimia Organik 1. Bandung: Penerbit
ITB.




Saya Anis nabila (RSA1C117014) ,ingin menjawab pertanyaan saudari murni pertanyaan no 1
BalasHapusSubstrat (t-butil bromida), dan bukan nukleofilnya (air) yang terlibat dalam pengendalian laju dan reaksinya bertingkat satu”(Pine,1988:414). Jadi yang terlibat hanya satu pereaksi dalam reaksi, yaitu alkil halida sedangkan nukleofil tidak terlibat dalam pembentukan karbokation ( penentuan laju reaksi). Pembentukan karbokation akan menentukan mekanisme reaksi SN1akan berlangsung cepat, jika karbokation yang terbentuk adalah struktur tersier dan akan berlangsung lambat jika strukturnya primer.
Semoga bermanfaat
Saya Hr. Yuniarccih dengan NIM Rsa1c117001
BalasHapusSaya akan me coba menjawab pertanyaan saudari murni yang ke-2
Kecepatan reaksi Sn 1 hanya memperhitungkan konsentrasi dari gugus alkilnya
Sebenarnya rumus dari kecepatan reaksi Sn1 itu
R=k[Rx]¹[Nu]⁰
Namun karena semua yang berpangkat nol bernilai 1, jadi konsentrasi nukleofil bisa diabaikan
Sekian jawaban dari saya, semoga dapat membantu