Senin, 28 September 2020

Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran


Sumber : http://3.bp.blogspot.com

Latar Belakang Permasalahan

Mata pelajaran kimia adalah salah satu mata pelajaran yang akan diajarkan di Sekolah Menengah Atas (SMA) jurusan IPA. Mata pelajaran kimia ini merupakan salah satu dari cabang ilmu pengetahuan alam yang sangat berkaitan dikehidupan sehari-hari, misalnya peristiwa akan mudah tersengat listrik apa bila memegang benda listrik dalam kedaan basah Kimia merupakan mata pelajaran yang akan membahas hal–hal yang berkaitan dengn struktur dan komposisi materi, perubahan yang akan dialami materi, dan fenomena lain yang mempengaruhi materi. Namun kenyataannya mata pelajaran kimia merupakan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.

      Materi larutan elektrolit dan nonelektrolit ini merupakan salah satu materi kimia yang dipelajari di kelas X. Materi larutan elektrolit dan nonelektrolit ini yang dimana materi nya memiliki karakterisitik berupa konsep – konsep yang berkaitan dengn kehidupan sehari – hari. Materi ini juga sering kita lihat dalam kehidupan sehari – hari misalnya kegunaan minuman isotonik sebagai pengganti cairan tubuh. Sebab minuman isotonik mengandung elektrolit yang dapat mengganti cairan tubuh yang keluar bersamaan dengan keringat. Untuk mengemukakan fenomena-fenomena yang berkaitan dengan materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam kehidupan sehari-hari diperlukan rasa percaya diri siswa dalam memberikan hasil pemikiran dan gagasan yang diketahui dan yang dialami siswa.

      Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru kimia di SMAN 10 Kota Jambi pada 17 September 2020, diperoleh informasi bahwa peserta didik masih kurang aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik masih kurang memiliki rasa ingin tahu dalam mencari informasi,, kurang tanggap dalam menanggapi masalah, serta masih kurang percaya diri dalam bertanya dan menjawab pertanyaan dari guru. Dikatakan pula kurangnya rasa percaya diri yang dimiliki siswa muncul pada peserta didik dalam mempelajari materi kimia karena peserta didik di kelas X itu masih dalam peralihan dari SMP menuju SMA sehingga mereka masih dalam pengenalan pada pembelajaran kimia. Dalam proses pembelajaran siswa cenderung pasif dalam pembelajaran, hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang masih ragu-ragu dalam menyampaikan hasil pemikirannya mengenai materi larutan elektrolit dan nonelektrolit.


Penelitian Relevan 

Ada beberapa penelitian yang relavan dan mendukung antara pelaksanaan model pembelajaran problem based learning dengan self efficacy siswa. Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2018) yang menerapkan model pembelajaran berbasis masalah untuk membantu berkembangnya self efficacy yang dimiliki siswa. Sebab model pembelajaran berbasis masalah dapat menuntut siswa berpikir logis, kreatif, berempati, kritis, dan menghargai pendapat orang lain.

Berikutnya penelitian yang dilakukan oleh Nahdi (2018) melakukan eksperimen model problem based learning dan model guided discovery learning terhadap kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari self efficacy siswa. Dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa terdapat perbedaan pada kelompok siswa dengan self efficacy rendah dengan perbandingan penggunaan model problem based learning dan model guided discovery learning pada kemampuan pemecahan masalah memperoleh hasil bahwa penerapan penggunaan model problem based learning lebih baik dalam meningkatkan pemecahan masalah.

Selanjutnya penelitian yang dilakukan oleh Sariningsih dan Purwasih (2017) untuk mengetahui peningkatan kemampuan self efficacy dan pemecahan masalah menggunakan  model pembelajaran problem based learning dengan hasil penelitian bahwa self efficacy kelas eksperimen lebih baik dari pada sell efficacy kelas kontrol, dimana maksudnya ialah kempuan diri dalam menyelesaikan tugas berbasis masalah yang dimiliki siswa dalam kelas eksperimen lebih baik. Serta didapatkan pula bahwa model pembelaran problem based learning menunjukkan bahwa hasil dai pencapaian pemecahan masalah lebih baik. Serta kemampuan pemecahan masalah dengan self efficacy yang dimiliki siswa juga mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah.

Penelitian oleh Yelvalinda (2019) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran problem based learning terhadapa pemahaman awal yang dimiliki siswa. Berdasarkan hasil analisis yang telah dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa adanya peningkatan kemampuan yang dimiliki siswa terhadap pemahaman dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning lebih tinggi bila dibandingkan dengan pembelajaran ekspositori. Interaksi antara model pembelajaran yang digunakan terhadap tingkat pemahaman yang dimiliki siswa berbeda, karena hasil yang didapat tingkat pemahaman yang dimiliki siswa dengan model pembelajaran Problem based learning lebih tinggi dari pada tingkat pemahaman yang dimilki siswa  dengan menggunakan pembelajaran ekspositori.

Reflina (2018) meneliti kaitan pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan self efficacy siswa dengan hasil menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu menyelesaikan tugas dan mencoba tantangan baru dengan kemampuan self efficacy yang dimiliki siswa. Pembelajaran berbasis masalah dalam pengembangan ketrampilan siswa akan mampu mengembangkan kemapuan dan prestasi belajar siwa juga akan menjadi lebih baik dan dengan cara ini self efficacy yang dimiliki siswa mampu merencanakan penyelesian dalam menyelesaikan tugas.

      Dari penjelasan di atas, untuk menciptakan sutau pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan self efficacy yang kan memberikan pembelajaran semakin efektif dan juga peserta didik meyakini akan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas berbasis masalah dengan merasa yakin akan pengetahuan yang dimilikinya, dapat menggunakan model pembelajaran problem based learning. Alasan penggunaan model pembelajaran problem based learning ini adalh sebagai sarana yang digunakan untuk membantu siswa dalam meningkatkan sself efficacy siswa. Untuk itu diharapkan pelaksaan penggunaan model pembelajaran problem based learning ini dapat memberikan perubahan positif terhadap self efficacy siswa.

      Berdasarkan Latar Belakang yang telah dijelaskan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan judul “Analisis Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap Self Efficacy Siswa pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit Kelas X IPA SMA”.

 

Teori Belajar Terhadap Model Pembelajaran

Problem Based Learning

      Model pembelajaran problem based learning merupakan merupakan model pembelajaran yang berbasis masalah dimana peserta didik mampu menyelesaikan masalah dengan kemapuan yang dimilikinya dan guru yang memberikan masalah dan memfasilitasi siwa dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran problem based learning ini sedniri berlandasan pada teori belajar konstruktivisme dimana dalam pelaksanaan teori belajar konstruktivisme merupakan suatu teori yang teknis pembelajaranyang dilakukan melibatkan siswa dalam membina dirinya sendiri secara aktif baik dari segi pengetahuan yang dimilikinya dalam dirinya sendiri. Peranan pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator atau orang yang mampu menciptakan kondisi belajar yang baik untuk membatu peserta didik berperan aktif dalam mencari informasi dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang baru dan perubahan pengetahuan dari pengetahuan yang telah dimilikinya.

      Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan model pembelajaran problem based learning dimana tahapan awal adalah mengorientasikan masalah. Pada tahap ini guru akan menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi pada siswa untuk dapat memecahkan masalah. Tahap selanjutnya siswa di organisasikan untuk belajar. guru membantu siswa untuk  membatasi permasalah terhadap tugas yang diberikan. Lalu guru membimbing siswa melaukan penyelidikan baik secara individu maupun kelompok, dengan cara mendorong iswa dalam mengumpulkan informasi terkait dalam penyelesaian masalah dan mencari penjelasan yang berkaitan dengan masalah. Selanjutnya siswa menyiapkannya dalam bentuk laporan, video dall dalam mengembangkan hasil dari penyelesaian permasalahan. Ditahapan terakhir adalah melakukan pengevaluasian dan melakukan analisis terhadap proses penyelesaian masalah. Dan guru membantu siswa dalam merefleksikan terhadap penyelidikan siswa pada proses penyelesaian masalah.

      Berdasarkan penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa langkah-langkah dalam model pembelajara problem based learning sesuai dengan teori belajar kontruktivisme, karena setiap setiap tahapan pelakasaan model pembelajaran problem based learning ini mengajak siswa dalam penyelesaian masalah dengan  melibatkan siswa dalam membina dirinya sendiri secara aktif baik dari segi pengetahuan yang dimilikinya dalam dirinya sendiri.


Penerapan Teori dalam Penelitian Kualitatif, Kuantitatif, dan Campuran

Sumber : http://3.bp.blogspot.com Latar Belakang Permasalahan Mata pelajaran kimia adalah salah satu mata pelajaran yang akan diajarkan di...