Latar Belakang Permasalahan
Mata pelajaran
kimia adalah salah satu mata pelajaran yang akan diajarkan di Sekolah Menengah
Atas (SMA) jurusan IPA. Mata pelajaran kimia ini merupakan salah satu dari
cabang ilmu pengetahuan alam yang sangat berkaitan dikehidupan sehari-hari,
misalnya peristiwa akan mudah tersengat listrik apa bila memegang benda listrik
dalam kedaan basah Kimia merupakan mata pelajaran yang akan membahas hal–hal
yang berkaitan dengn struktur dan komposisi materi, perubahan yang akan dialami
materi, dan fenomena lain yang mempengaruhi materi. Namun kenyataannya mata
pelajaran kimia merupakan pelajaran yang dianggap sulit oleh siswa.
Materi larutan elektrolit dan
nonelektrolit ini merupakan salah satu materi kimia yang dipelajari di kelas X.
Materi larutan elektrolit dan nonelektrolit ini yang dimana materi nya memiliki
karakterisitik berupa konsep – konsep yang berkaitan dengn kehidupan sehari –
hari. Materi ini juga sering kita lihat dalam kehidupan sehari – hari misalnya
kegunaan minuman isotonik sebagai pengganti cairan tubuh. Sebab minuman
isotonik mengandung elektrolit yang dapat mengganti cairan tubuh yang keluar
bersamaan dengan keringat. Untuk mengemukakan fenomena-fenomena yang berkaitan
dengan materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dalam kehidupan sehari-hari
diperlukan rasa percaya diri siswa dalam memberikan hasil pemikiran dan gagasan
yang diketahui dan yang dialami siswa.
Berdasarkan hasil wawancara terhadap guru
kimia di SMAN 10 Kota Jambi pada 17 September 2020, diperoleh informasi bahwa peserta
didik masih kurang aktif dalam proses pembelajaran. Peserta didik masih kurang
memiliki rasa ingin tahu dalam mencari informasi,, kurang tanggap dalam
menanggapi masalah, serta masih kurang percaya diri dalam bertanya dan menjawab
pertanyaan dari guru. Dikatakan pula kurangnya rasa percaya diri yang dimiliki
siswa muncul pada peserta didik dalam mempelajari materi kimia karena peserta
didik di kelas X itu masih dalam peralihan dari SMP menuju SMA sehingga mereka
masih dalam pengenalan pada pembelajaran kimia. Dalam proses pembelajaran siswa
cenderung pasif dalam pembelajaran, hal ini ditunjukkan dengan sikap siswa yang
masih ragu-ragu dalam menyampaikan hasil pemikirannya mengenai materi larutan
elektrolit dan nonelektrolit.
Penelitian Relevan
Ada beberapa
penelitian yang relavan dan mendukung antara pelaksanaan model pembelajaran problem based learning dengan self efficacy siswa. Berdasarkan hasil
penelitian yang dilakukan oleh Firdaus (2018) yang menerapkan model
pembelajaran berbasis masalah untuk membantu berkembangnya self efficacy yang dimiliki siswa. Sebab model pembelajaran
berbasis masalah dapat menuntut siswa berpikir logis, kreatif, berempati,
kritis, dan menghargai pendapat orang lain.
Berikutnya
penelitian yang dilakukan oleh Nahdi (2018) melakukan eksperimen model problem based learning dan model guided discovery learning terhadap
kemampuan pemecahan masalah matematis ditinjau dari self efficacy siswa. Dari hasil penelitian ini dijelaskan bahwa
terdapat perbedaan pada kelompok siswa dengan self efficacy rendah dengan perbandingan penggunaan model problem based learning dan model guided discovery learning pada kemampuan
pemecahan masalah memperoleh hasil bahwa penerapan penggunaan model problem based learning lebih baik dalam
meningkatkan pemecahan masalah.
Selanjutnya penelitian
yang dilakukan oleh Sariningsih dan Purwasih (2017) untuk mengetahui
peningkatan kemampuan self efficacy
dan pemecahan masalah menggunakan model
pembelajaran problem based learning
dengan hasil penelitian bahwa self
efficacy kelas eksperimen lebih baik dari pada sell efficacy kelas kontrol, dimana maksudnya ialah kempuan diri
dalam menyelesaikan tugas berbasis masalah yang dimiliki siswa dalam kelas
eksperimen lebih baik. Serta didapatkan pula bahwa model pembelaran problem based learning menunjukkan bahwa
hasil dai pencapaian pemecahan masalah lebih baik. Serta kemampuan pemecahan
masalah dengan self efficacy yang
dimiliki siswa juga mengalami peningkatan kemampuan pemecahan masalah.
Penelitian
oleh Yelvalinda (2019) untuk mengetahui pengaruh model pembelajaran problem based learning terhadapa
pemahaman awal yang dimiliki siswa. Berdasarkan hasil analisis yang telah
dilakukan didapatkan kesimpulan bahwa adanya peningkatan kemampuan yang
dimiliki siswa terhadap pemahaman dengan menggunakan model pembelajaran problem based learning lebih tinggi bila
dibandingkan dengan pembelajaran ekspositori. Interaksi antara model
pembelajaran yang digunakan terhadap tingkat pemahaman yang dimiliki siswa
berbeda, karena hasil yang didapat tingkat pemahaman yang dimiliki siswa dengan
model pembelajaran Problem based learning
lebih tinggi dari pada tingkat pemahaman yang dimilki siswa dengan menggunakan pembelajaran ekspositori.
Reflina (2018)
meneliti kaitan pembelajaran berbasis masalah dengan kemampuan self efficacy siswa dengan hasil
menjelaskan bahwa pembelajaran berbasis masalah mampu menyelesaikan tugas dan
mencoba tantangan baru dengan kemampuan self
efficacy yang dimiliki siswa. Pembelajaran berbasis masalah dalam
pengembangan ketrampilan siswa akan mampu mengembangkan kemapuan dan prestasi
belajar siwa juga akan menjadi lebih baik dan dengan cara ini self efficacy yang dimiliki siswa mampu
merencanakan penyelesian dalam menyelesaikan tugas.
Dari penjelasan di atas, untuk menciptakan
sutau pembelajaran yang mampu meningkatkan kemampuan self efficacy yang kan memberikan pembelajaran semakin efektif dan
juga peserta didik meyakini akan kemampuannya dalam menyelesaikan tugas berbasis
masalah dengan merasa yakin akan pengetahuan yang dimilikinya, dapat
menggunakan model pembelajaran problem
based learning. Alasan penggunaan model pembelajaran problem based learning ini adalh sebagai sarana yang digunakan
untuk membantu siswa dalam meningkatkan sself
efficacy siswa. Untuk itu diharapkan pelaksaan penggunaan model
pembelajaran problem based learning
ini dapat memberikan perubahan positif terhadap self efficacy siswa.
Berdasarkan Latar Belakang yang telah
dijelaskan di atas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian dengan
judul “Analisis Penggunaan Model Pembelajaran Problem Based Learning (PBL) terhadap Self Efficacy Siswa pada Materi Larutan Elektrolit dan
Nonelektrolit Kelas X IPA SMA”.
Teori Belajar Terhadap Model Pembelajaran
Problem
Based Learning
Model pembelajaran problem based learning merupakan merupakan model
pembelajaran yang berbasis masalah dimana peserta didik mampu menyelesaikan
masalah dengan kemapuan yang dimilikinya dan guru yang memberikan masalah dan
memfasilitasi siwa dalam menyelesaikan masalah. Pembelajaran problem based learning ini
sedniri berlandasan pada teori belajar konstruktivisme dimana dalam pelaksanaan
teori belajar konstruktivisme merupakan suatu teori yang teknis
pembelajaranyang dilakukan melibatkan siswa dalam membina dirinya sendiri secara
aktif baik dari segi pengetahuan yang dimilikinya dalam dirinya sendiri.
Peranan pendidik hanya bertindak sebagai fasilitator atau orang yang mampu
menciptakan kondisi belajar yang baik untuk membatu peserta didik berperan
aktif dalam mencari informasi dan mengkonstruksinya menjadi pengetahuan yang
baru dan perubahan pengetahuan dari pengetahuan yang telah dimilikinya.
Dalam pelaksanaan pembelajaran menggunakan
model pembelajaran problem based learning
dimana tahapan awal adalah mengorientasikan masalah. Pada tahap ini guru akan
menjelaskan tujuan pembelajaran, memberikan motivasi pada siswa untuk dapat
memecahkan masalah. Tahap selanjutnya siswa di organisasikan untuk belajar.
guru membantu siswa untuk membatasi
permasalah terhadap tugas yang diberikan. Lalu guru membimbing siswa melaukan
penyelidikan baik secara individu maupun kelompok, dengan cara mendorong iswa
dalam mengumpulkan informasi terkait dalam penyelesaian masalah dan mencari
penjelasan yang berkaitan dengan masalah. Selanjutnya siswa menyiapkannya dalam
bentuk laporan, video dall dalam mengembangkan hasil dari penyelesaian
permasalahan. Ditahapan terakhir adalah melakukan pengevaluasian dan melakukan
analisis terhadap proses penyelesaian masalah. Dan guru membantu siswa dalam
merefleksikan terhadap penyelidikan siswa pada proses penyelesaian masalah.
Berdasarkan penjelasan tersebut maka disimpulkan bahwa
langkah-langkah dalam model pembelajara problem
based learning sesuai dengan teori belajar kontruktivisme, karena setiap
setiap tahapan pelakasaan model pembelajaran problem based learning ini mengajak siswa dalam penyelesaian
masalah dengan melibatkan siswa dalam
membina dirinya sendiri secara aktif baik dari segi pengetahuan yang
dimilikinya dalam dirinya sendiri.
